-->

Breaking

logo

Friday, February 28, 2020

Apakah Virus Corona Dicover dalam Polis Asuransi Kecelakaan Diri ?

Apakah Virus Corona Dicover dalam Polis Asuransi Kecelakaan Diri ?

Virus corona (COVID-19) telah menjadi berita yang menggegerkan dunia sejak pertama kali teridentifikasi di Cina pada tanggal 31 Desember 2019. Nah, bagaimana jika seorang nasabah warga negara Indonesia yang sebelumnya telah membeli polis asuransi kecelakaan diri (personal accident insurance), apakah kematian dan atau pengobatan pasien atas kejadian virus corona tersebut dapat dijamin oleh polis.

Guna menjawab pertanyaan di atas tentu saja diperlukan atau dihadirkan wording polis beserta lampiran klausula yang disertakan sehingga pembahasannya menjadi lengkap dan tidak salah dalam menjawab pertanyaan di atas. Hal ini penting dilakukan mengingat bahwa buku polis yang didalamnya terdapat schedule, wording, dan klausula-klausula asuransi yang dilampirkan merupakan satu kesatuan dokumen yang menjadi dokumen kontrak asuransi resmi antara penanggung dan tertanggung.

Kembali pada pertanyaan di atas, apakah kematian dan atau biaya pengobatan ke rumah sakit yang dialami pasien sebagai tertanggung dapat dicover di bawah polis asuransi kecelakaan diri. Dengan asumsi bahwa polis yang dibeli nasabah adalah polis yang menggunakan wording yang dikeluarkan oleh AAUI (Asosiasi Asuransi Umum Indonesia) yaitu Polis Standard Asuransi Kecelakaan Diri Indonesia AAUI (PSAKDI-AAUI) maka hal pertama yang perlu disimak adalah definisi atas “kecelakaan” itu sendiri.

Diketahui bahwa definisi “kecelakaan” yang tercantum dalam wording PSAKDI-AAUI adalah “suatu kejadian atau peristiwa yang mengandung unsur kekerasan baik yang bersifat fisik maupun kimia, yang datangnya secara tiba-tiba, tidak dikehendaki atau direncanakan, dari luar, terlihat, langsung terhadap Tertanggung yang seketika itu mengakibatkan luka badani yang sifat dan tempatnya dapat ditentukan oleh Ilmu Kedokteran, termasuk :

  • keracunan karena terhirup gas atau uap beracun, kecuali Tertanggung dengan sengaja memakai obat-obat bius atau zat lain yang telah diketahui akibat-akibat buruknya termasuk juga pemakaian obat-obatan terlarang,
  • terjangkit virus atau kuman penyakit sebagai akibat Tertanggung dengan tidak sengaja terjatuh ke dalam air atau suatu zat cair lainnya,
  • mati lemas atau tenggelam

Dari definisi “kecelakaan” di atas dapat disimpulkan bahwa penyebab kematian tertanggung atau biaya medis yang sudah dikeluarkan olehnya sebagai akibat terjangkit virus corona harus terjadi dari sebuah kejadian kekerasan, artinya ada unsur accident atau kecelakaan baik kecelakaan yang bersifat fisik maupun kimia dengan ketentuan bahwa hal itu bukan karena unsur kesengajaan atau bahkan sesuatu yang telah direncanakan oleh tertanggung. Selanjutnya wording polis meng-include-kan kasus spesifik yaitu terjangkitnya penyakit atau kuman yang diawali oleh kejadian tertanggung jatuh ke dalam air atau zat cair lain.

Dari pendefinisian di atas, faktor kunci bahwa meninggalnya tertanggung atau sakitnya yang bersangkutan sehingga harus mengeluarkan biaya berobat di rumah sakit, akan dapat dijamin oleh polis asuransi kecelakaan diri apabila diawali dengan kejadian kekerasan (dalam arti ada kecelakaan yang dialami oleh tubuh tertanggung). Tanpa ada peristiwa kekerasan yang mendahuluinya maka klaim asuransi atas kejadian COVID-19 menjadi tidak terjamin.

Hal tersebut diperjelas dalam Pasal 1 ayat 2 wording PSAKDI-AAUI yang menyatakan bahwa polis ini akan menjamin risiko kematian, cacat tetap, biaya perawatan dan atau pengobatan yang diakibatkan oleh masuknya virus atau kuman penyakit ke dalam luka yang diderita sebagai akibat dari suatu kecelakaan yang dijamin polis, atau komplikasi atau bertambah parahnya penyakit yang disebabkan oleh suatu kecelakaan yang dijamin dalam polis selama dalam perawatan atau pengobatan yang dilakukan oleh dokter.

virus Corona

Disclaimer: Articles, images, or videos published on this web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.